Sosial Media

Selasa, 28 Februari 2012

Pengasingan Dan Kesunyian

Hidup adalah sebuah pulau dalam samudera pengasingan dan kesunyian. Hidup adalah sebuah pulau batu-batu karang adalah hasrat-hasratnya, pepohonan adalah impiannya, bunga adalah kesendiriannya, dan hidup berada diantara samudera pengasingan dan kesunyian.

Hidupmu, temanku, adalah suatu pulau yang terpisah dari semua pulau dan benua lain. Tak perduli berapapun banyaknya perahu yang kau kirim ke pantai lain, Atau berapa banyak kapal yang datang ke pantaimu, Engkau sendiri adalah suatu pulau yang terpisah oleh kepedihannya sendiri, Terpencil dalam kebahagiaannya dan terpisah jauh dalam keharuannya Dan tersembunyi dalam misteri dan rahasianya.

Aku melihatmu, temanku, duduk diatas gundukan tanah emas, Berbahagia karena hartamu, Agung karena kekayaanmu
dan percaya bahwa segenggam penuh emas adalah rantai rahasia yang menghubungkan pemikiran orang-orang dengan pemikiranmu sendiri dan menghubungkan perasaan mereka dengan perasaanmu.

Aku melihatmu menjadi penakluk besar yang memimpin pasukan bersenjata menuju suatu benteng, Untuk menghancurkan dan merebutnya. Pada pandangan kedua aku menemukan diluar dinding harta bendamu sebuah hati yang menggigil dalam kesunyian dan
pengasingannya seperti menggigilnya seorang yang kehausan dalam sebuah sangkar permata dan emas,
tetapi tanpa air.

Aku melihatmu, temanku, duduk dalam tahta kemuliaan, dikelilingi orang-orang yang memuji kedermawananmu, yang menyebut-nyebut pemberianmu, menatapmu seolah-olah mereka tengah berada dihadapan seorang nabi yang mengangkat jiwa-jiwa mereka tinggi keatas bintang dan planet.

Aku melihatmu ketika kau melihat mereka, kepuasan dan kekuatan nampak diwajahmu, Seolah-olah kamu dengan mereka adalah seperti jiwa dan raga. Pada pandangan kedua
kulihat dirimu yang terasing
berdiri disamping singgasanamu, Menderita dalam pengasingannya dan gemetar dalam kesunyiannya. Aku melihat ia meregangkan tangannya seolah-olah sedang memohon dari hantu tak terlihat. Aku melihat ia memandang dari balik bahu orang-orang kearah kaki langit yang jauh, kosong dari segala sesuatu kecuali kesunyian dan keterasingannya.

Aku melihatmu, temanku, penuh nafsu tergila-gila pada perempuan cantik, Mengisi telapak tangannya dengan ciuman-ciumanmu ketika ia melihatmu dengan simpati dan kasih sayang dimatanya, dan kebaikan seorang ibu pada bibirnya aku katakan, dengan diam-diam, bahwa cinta telah
menghapus kesunyiannya dan membuang keterasingannya. Ia kini barada dalam jiwa abadi yang menarik kepada dirinya sendiri, dengan cinta, mereka yang terpisah oleh kesunyian dan keterasingan. Pada pandangan kedua aku melihat dibelakang jiwamu terdapat jiwa lain yang kesepian, seperti kabut, berusaha dengan sia-sia
menjadi setetes air mata dalam telapak tangan perempuan itu.

Hidupmu, temanku, adalah sebuah tempat tinggal yang jauh dari tempat tinggal dan tetangga yang lain. Jiwamu adalah rumah yang jauh dari rumah lainnya yang dinamai sepertimu. Jika rumah tinggal ini gelap, engkau tidak bisa
meneranginya dengan lampu
tetanggamu. Jika ia kosong kau tak bisa mengisinya dengan kelimpahan tetanggamu; Andai ia berada di tengah padang pasir, engkau tidak bisa memindahkannya kesuatu kebun yang ditanam oleh orang lain.

Jiwamu, temanku, dikelilingi oleh kesunyian dan pengasingan. Andai bukan karena kesunyian dan pengasingan ini maka engkau tidak akan menjadi engkau dan aku tidak akan menjadi aku. Jika bukan karena
kesunyian dan pengasingan itu, aku akan mendengar suaramu, berpikir diriku dapat berbicara; Begitupun, jika aku melihat wajahmu, aku membayangkan diriku tengah memandang sebuah
cermin.
(Kahlil Gibran)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.