Ada saatnya kita terluka, lalu melangkah pergi, tak menoleh lagi. Sampai saatnya, kembali, kita kutip kenangan pada cebis luka-luka. Inilah saat, kita akan mengerti, luka mengajar kita jalan pulang. .
Bagaimana keinginan ingin dipenuhi, jika hajatnya tidak pernah ada yang sebenar. bagaimana mungkin ada, jika tiada itu tidak nampak, bagaimana mungkin tiada, jika yang ada masih kelam, bagaimana kepastian akan tercapai, pabila semua bagai nirwana mimpi indah, yang hancur terlerai tatkala angin membawa angan pergi, dan kenyataan menyapa kembali bagaimana keinginan ingin dipenuhi, jika hajatnya tidak pernah ada yang sebenar. bagaimana mungkin ada, jika tiada itu tidak nampak, bagaimana mungkin tiada, jika yang ada masih kelam, bagaimana kepastian akan tercapai, pabila semua bagai nirwana mimpi indah, yang hancur terlerai tatkala angin membawa angan pergi, dan kenyataan menyapa kembali dirimu muncul bak angin lalu aku mengayam rasa dengan bisikanmu ku perjudikan hati untuk cintamu ku relakan hati menerima rasa itu berbunga mekar dihati tapi sayang diriku memendam rasa korbankan segala ku lepaskan dirimu agar kamu dan dia bahagia kebenarannya, aku bukan kedua apa sebenarnya? kau menduga aku ,kini bagaimana? apa aku harus lakukan? kejamnya aku!! Zalimnya aku!! Hatiku merintih pedih menahan rasa menyembunyikan derita ku, maaf darimu kasih adakah peluang kedua buat ku? Bodohnya aku mengambil jalan ini kasih. .
Aku tesamat menyayangimu kembali padaku, ku pinta peluang darimu tapi tiada ego dirimu membunuhku tiada lagi candamu, hanya berdiam diri memberi ruang buatmu, cukup sampai disini tinggallah memorabilia buat ku tentang aku dan dirimu pada cinta hampa. .
Jauh ku tenung langit malam tanpa bintang bulan kesunyian, seperti aku yang kesedihan dan keperihanku tak dapat ku luahkan tak pernah ku ketahui sahihnya hidupku penuh rintihan linangan air mata peneman hidup aku pelayar lautan air mata mencari pelabuhan hati yang menerimanamun aku karam, aku berhenti berharap untuk tiba ke pelabuhan. karamlah diriku pelayaran lautan air mata tiada bahagia. . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.